Senin, 03 September 2012

message in the moment..

"Recital Cello" tanggal 8 Juni 2012. solo recital pertama saya. sebenarnya isi dari Recital itu sendiri ingin menyampaikan 3 repertoar saja, Sonata for cello and piano, Sergei Rachmaninoff; Liebestraum, Franz Liszt; dan Tarantella, Squire.

ya,, hanya sekedar ingin menyampaikan perasaan hati. kurasa itulah momennya.

untuk "seorang" pendukung yang pada saat itu tak ada. harapan penuh kucurahkan, semoga getaran senar celloku malam itu, sampai pada telinga yang dituju di Eropa sana.

karya Rachmaninoff Sonata for Cello and Piano. bagian 3 merupakan karya lambat diantara keempat bagiannya. memainkan melodi dalam bagian 3 ini seperti mengungkapkan perasaan kesakitan hati yang sangat dalam. seperti ingin mengungkapkan, mengeluarkan, mengemukakan sesuatu yang terpendam lamaa, namun terbatas oleh waktu dan dan ruang yang sebenarnya bisa dijangkau namun tak ada keberanian untuk menjangkau. yah, menjengkelkan. jengkel kepada diri sendiri.
Liebestraum "Dream of Love". karya Franz Liszt musik untuk puisi. Liszt membuat karya ini ada 3 noturno. namun "Dream of Love" adalah karya yang paling terkenal diantara ketiganya. dengan melodi yang sederhana, memainkan lagu ini seperti membuka aliran sendiri kepada hati. aliran untuk menyampaikan betapa berharganya perasaan "cinta". kepedihan dan kebahagiaan meluap menjadi satu membuat mampu merasakan gejolak yang menggerakkan rasa dan otak. perasaan itu mengembalikan ku pada cerita, aku dan kamu, saling mencinta dan menyakiti, kita sama sama pengecut namun saling terkait dan punya mimpi.
Tarantelle, musik tarian tradisional daerah Italia dan Argentina. mereka percaya dengan menari berputar dengan sukat 6/8 dan tempo cepat akan menghilangkan racun akibat gigitan tarantula. ya, tentu aku ingin menari denganmu, menghilangkan racun, mengobati sakit, dan aku menginginkan "kesembuhan".

illustrasi gambar dalam poster adalah karya dari seorang sahabat, Risao Pambudi dengan judul "Cello Player". dikerjakan dengan teknik Dry Point yang aku sendiri tak tahu Dry Point itu apa. sudah bentuk karya diatas kanvas, sampai ditanganku. kemudian ku bingkai, dan terpampang diruang tamu rumahku.  lama memandanginya, ini karya punya nilai. harus menjadi poster supaya tak hanya aku saja yang bisa mengaguminya.



terimakasih yang terucap di booklet sebenarnya tak sepenuhnya mewakili, betapa terimakasihnya aku untuk mereka yang mendukungku dibalik semuanya. Ada banyak "harapan", "perasaan", "cinta", "penghargaan", dan "momen" yang mengalir dalam prosesnya. semua itu sangat berharga untukku.


Tidak ada komentar: