Selasa, 04 Oktober 2016

kenangan, pengalaman, dan menunggu rindu

Bangun tidur sudah melihat ibu Nyoman menata sesajen yang akan dibawa ke pura, saya mandi sebelum sarapan. Biasanya sih saya malas mandi kalau udara dingin begini. Tapi tidak untuk hari spesial ini. Malam nanti saya harus pentas gamelan di pura Masceti Bangli  untuk upacara Buda Wage Klawu. Buda Wage Klawu adalah upacara untuk memperingati hari Bethari Sri. Dan pentas gamelan ini pertama kalinya buat saya. Karna saya akan memainkan rebab yang baru saya pelajari pagi itu juga. Setelah latihan yang nggak keras dan biasa-biasa saja, kami bertiga jalan-jalan ke desa Panglipuran. Desa Panglipuran adalah desa tradisional di Bangli yang letaknya nggak jauh dari Kintamani. Disana kita juga bisa jalan-jalan di Bamboo Forest. Satu minuman yang direkomandasikan teman saya adalah Loloh Cemcem yang merupakan minuman khas Panglipuran. "enak" katanya. Minuman ini biasa disuguhkan pada saat warga Panglipuran kumpul atau sedang punya hajat. Minuman ini berasal dari daun cem ceman. Lalu saya beli loloh cemcem sudah dalam kemasan botol. Tadinya saya kira disajikan seperti jamu di Jawa, tetapi ternyata tidak. minuman ini dikemas dalam botol, berwarna hijau persis perasan daun. Aromanya seperti daun dan rasanyaaa seperti rujak. Aneh dan saya nggak suka. 
Di desa Panglipuran kami bertiga ketemu dengan teman Nyoman,namanya Agus. Agus adalah seorang pelukis, teman SMA Nyoman di sekolah seni Bali. Kami mampir dirumah Agus dan ternyata dia dari keluarga seniman. Ayahnya pelukis dan pematung terkenal. Masuk dari pagar sudah tampak lukisan Dewa Dewi Bali dan dan beberapa lukisan yang menakjubkan. Bari obrolan siang itu saya mendapat banyak ilmu dari teman-teman. Dari tahap melukis realis seperti kebanyakan lukisan yang ada disana sampai obrolan tentang agama.
Pertama kali masuk rumah Agus saya takjub dengan lukisan besar yang digantung di tengah ruangan. Lukisan Sang Hyang Tunggal, yang orang bali bahasakan sebagai Tuhan. Dari lukisan itu saya mulai tahu bahwa dewa-dewa seperti Brahmana (api), Wisnu (air), dan Siwa (angin) adalah  gambaran dari unsur manusia. Bicara tentang upacara adat sampai karma. Menarik.
Sore hari kami harus latihan untuk pentas dipura malam itu. Saya gugup pertama kalinya gamelan bunyi. Di Bali, hampir semua orang bisa memainkan gamelan. Karna tradisi bermain gamelan dipakai untuk upacara agama. Setiap Banjar di Bali memiliki sanggar. Jadi tidak heran bagaimana seni tradisi di Bali masih asri dan terjaga.
Menjelang sore, sayup gamelan di pura pusek masih berkelajutan. Ibu Nyoman meminjamkan saya baju kebaya, jarit, sabuk dan ikat pinggang.  Kami jalan kaki menuju pura. Saya, ibu Nyoman, dan keponakan Nyoman, Putu. Ada tiga kali sembahyang yang dilakukan malam itu.  Itu adalah kali pertama saya masuk ke pura dan ikut sembahyang. Saya duduk di tempat berdoa dengan menyembahkan kedua tangan yang mengapit sebuah bunga kamboja kemudian ditempelkan di kening beberapa kali. Seorang perempuan mendekati saya dengan membawa gayung kayu berisi air. 
dengan gugup saya membasuh diri, kemudian menempelkan beras di kening, leher dan belakang telinga. Kami pulang, dan saya bersiap untuk pentas.
Ini adalah pentas terpanjang untuk saya, pemantasan mulai pukul 10 hingga jam 3 dini hari. Setelah tidur kurang lebih satu jam saya dan teman-teman sanggar berjalan sama-sama menuju pura Pusek. Disana sudah ramai. Hidangan babi menjadi menu utama. Kami sembahyang di pura Pusek, lalu makam malam bersama.
Petas dimulai, saya duduk di panggung dan barisan paling depan. Hal yang paling membuat saya kawatir adalah, saya takut kalau saya mengantuk. Tapi ternyata tidak, karena kepala dan telinga saya tepat sekali didepan tabuhan gamelan. Suaranya keras sekali dengan gaung yang sangat penuh sehingga terasa penuh sekali di telinga. Saya belum terbiasa dengan musik selain musik barat. dalam kondisi begini bagi saya suara dan getaran nya terlalu keras. Well, saya harus menerima itu selama 5 jam. Pukul 3 dini hari petas mengiringi tari Barong itu selesai. Saya pulang membawa kenangan, pengalaman, dan menunggu rindu untuk mengulanginya lagi suatu hari.


Bangli, 25 Juli 2013

Selasa, 19 Januari 2016

Akar Jagad Nhirvadhamma

ternyata sudah lama sekali.
aah.. bahkan aku belum sempat berbagi setiap perjalanan dan jeda hidupku.

sudah kuputuskan untuk memilih dan dipilih dia. sudah kami mantabkan untuk membentuk tanda cinta dalam nadi yang akan tumbuh dewasa, dan jiwa dan raganya . sebuah tanda, lahir kala itu, 9 Juli 2014 pukul 7 malam. kesakitan semu yang luar biasa ditubuhku. sakit yang dilahirkan dari bahagia bahagia bahagia dan bahagia. baiklah! dia hadir.
Akar Jagad Nhirvadhamma. nama yang kami maknai, makna yang kami kembalikan. seiring proses jiwanya. dan ditatanan ini, semoga kami tidak lancang dan merenggut haknya sebagai jiwa yang hidup.
"tidakkah kamu perhatikan
bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti
pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) kelangit"
(Ibrahim:24) 
ini perihal kedua yang kutemui kala itu. kuamati dan kurenungkan dalam-dalam. "jadikanlah hati yang teguh, nak!" itu hanya harapan kami. berbaktilah kepada semua makhluk, dan jangan pernah sedikitpun sombong. dari lembaran yang kubuka, atas ijin semesta yang bicara tentang tulisan.

hidupkanlah dirimu sebesar-besarnya, luas, dan membentang dalam menjadi bagian semesta. menghidupi tatanan alam yang bukan dan sekali lagi bukan kebetulan semata. karna hati yang tidak sombong, tidak berkehendak atas apa yang bukan menjadi haknya. karna jiwamu hadir dari ruh dalam sebuah ketetapan. Jagad,,

dia bukanlah jiwa yang biasa. aku menemuinya dengan tulisan. aku berkali kali ingin pulang padanya. rasanya bukan aku. kamu yang ingin hadir menyentuhnya. berjubah warna kulit kayu. berkali-kali bicara tentang nhirvasitta. dan oooom. karena tali kehidupan hanyalah kebijaksanaan. karena tali kehidupan hanyalah kebijaksanaan. kau tenang sekali kala itu. menghirup aroma dupa. bercinta dengan alunan paritta. jadilah seimbang.

inilah, kewelas-asihan yang kami dapatkan. Akar Jagad Nhirvadhamma.

Om mani Padme Om.. Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata.. Sandhu..Sandhu..Sandhu.