di timur malam yang cerah, aku mengaggumi perbedaan. sedang keabadian menggerus kelopak kening tak beraturan. aku yang hampir lupa lagi terganggu keparat yang tersampaikan. ketika hanyut tapi hanya bersebelahan, sakitnya minta ampun. samar yang beracun. kekejaman permainan semakin tertawar. yang kalah itu yang mati duluan. dalam masanya apa baiknya "masih" dibuang saja jauh ke tepian pagar dan dibakar dalam dalamnya hingga membusuk, daripada sama-sama punya tapi tak nyata. sama berbenih tapi tak dihidupkan. "masih" ini, seperti menuangkan bisa mendidih ke kerongkongan. tapi dalam peperangan selau ada kemungkinan yg lain. bisa jadi ditumbuh suburkan, lalu kupupuk dengan bintang dan semesta raya dan berpegang tangan sederhana. ditimur malam yang cerah, kau tentu lebih tau untuk diapakan selebihnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar