si brengsek itu masih bermain main. menertawaiku dalam kesendiriannya. ia merasa terhianati dan tertindas karenaku. matanya tak pernah surut mengawasi gerak gerikku. rupanya dia pikir aku menyusun rencana dibaliknya. otaknya terlalu busuk untuk mengartikan semuanya. dia dengan caranya berusaha merebut milikku. apapun yang menjadi milikku.. usahanya berlanjut dan selalu ingin menjatuhkanku. menginjak-injakku dan sudah nyata dia benci padaku. senyumnya simpul, manis, dan menawan seperti perempuan didepan ku. dia ingin menghancurkanku dalam situasi. untungnya aku tetap tenang. mau apa? aku berani!
Tulisan dalam blog ini berangkat dari perspektif pribadi. Senduro adalah nama lain dari bunga Edelweiss. Dia agung. Hidup di tanah tinggi, dekat dengan Dewa Dewi. Hanya orang -orang yang bekerja keras, penuh keyakinan, dan berani saja yang dapat melihat. Berwarna putih, seperti hati orang baik. Ia tidak pernah mati, seperti kasih.
Sabtu, 09 Juni 2012
bodoh..!
9 juni 2012, jogja
Capek mas.
Aku aku mulu yang selalu melangkah dibelakang punggungmu.
Kamu seolah besar dan aku tak pernah sanggup merengkuh. Sementara mataku
terbutakan bayanganmu yang membias disetiapku. Mataku tertutup bayangan yang
besar yang menghalangi mata ini untuk melihat yang lain. Persis seperti selama
ini, terbutakan. Aku seperti terbatas dan bodohnya aku lupa, kalau diluar sana,
selain dibalik punggungmu aku bisa melihat yang lebih luar biasa luas. aku juga
kurang berusaha. Ironisnya lagi aku tak pernah sadar, bahwa disebelah sana ada
yang lebih menerimaku seperti adanya,
ala kadarnya. Selama ini, aku juga suatu kebodohan, dalam buta pun sudah berani
menilai dan membandingkan. Kepikir dulu dengan kau yang lebih besar aku akan
aman dan aku bisa sedikit diam. Ah, rupanya aku terlalu kau diamkan. Ya, tepat!
Semua ada ditanganmu. Tak adil, tapi aku lama bertahan. Lagi lagi
kebodohan.
Aku lupa mas, bahwa dulu aku dibesarkan ibu bapakku untuk
menjadi perempuan yang tangguh. Bukan hanya menjadi bayangan dan benalu yang
buta dan menempel dipundak lelaki. Bukan untuk seperti selama ini, membodohi
diri menanti yang tak pasti.
Aku samar samar berpindah, seperti kini, samar samar mataku
lebih bebas memandang, tak ada bayangan yang ada di lebih depan. Semua seiring,
bersama dan aku merasa ada. Aku lanyah melangkah. Kakiku sendiri tapi hatiku
terbuka. Semoga ini bertahan, seperti aku yang suka bertahan.
Capek mas, menjadi bodoh itu melelahkan.
Langganan:
Postingan (Atom)