pada awal itu aku dan kamu masih berpeluk, saling mencumbu di kedai sore itu. banyak mata memandang, heran dan iri entah risih kepada kelakuan kita,, namun tanpa peduli kita asing dalam mereka. kita hanyut dalam satu yang membaur. menyenangkan menyentuh ubun-ubun. seolah hanya kamu yang ku punya dan aku milikmu.
dikedai itu tubuhmu terlentang di sebelahku, kepalamu menumpu di paha kiriku. kita bercerita dan menyusun kenangan untuk nanti. kau bilang bermacam-macam, dan kita sama tertawa. haha.. hanya kita yang tau.
kau emas yang kucari. tapi setiap kubilang begitu, jawabmu selalu "ah, kamu berlebihan". dan kau tak pernah tau itu membuatku tertanam di lumpur mengecil dan pening. menggapaimu itu adalah doa yang tak sengaja diaminkan. sebab aku melihatmu kuasa dan meraja di hati. waktu itu. waktu itu saja.
seketika kau lenyap dan meruangkan rindu yang lama-lama menjadi suatu kesakitan. kau hilang tanpa bicara. lenyap begitu saja.
aku masih berdiri didaun pintu kebingungan. aku terus berfikir "mengapa". juga mengapa aku masih terus berfikir. mulai saat itu aku menjadi pendiam dan penyendiri. dingin seperti yang mati. alam semesta menipu dan dewa-dewa tak mau bicara padaku. merenggut aku dari logika.
di balik kerumunan kau terus melangkah. punggungmu masih terjangkau dari mata. aku tak sedikitpun berpaling dan tajam mengawasi. aku tak kenal lelah, jika hanya untuk ingin tau. sejujurnya kau tampak dan kadang hilang, tampak, dan hilang, tampak, hilang tapi itu karna aku memang kerdil tak sanggup mengalahkan tingginya orang orang yang didepanku, kurasa itu bukan alasan. dan tetap saja aku mengawasimu. sementara aku ingin menepuk dan bertanya kambali "mengapa?".
lewat lewat lewat dan bulan bintang masih menertawaiku dalam kekerdilan. alam semesta mencorengku dari titik kewarasan. aku buta dan silau pada kepastian. bertahun-tahun.
kau yang kalah, dan aku yang bertahan. kau yang kalah dan aku yang bertahan. kau yang kalah dan aku yang bertahan. lagi-lagi aku mengucap. seperti mantra diulang ulang, tapi tak mau diaminkan.
kamu hilang, aku hampir putus asa.
Juni, setahun tepat setelahnya. entah datang darimana kau menyapa. hadir dihadapanku dengan membawa bunga. anehnya kau diam, tak bicara apa-apa. kau hanya tersenyum dan menyambut tanganku untuk menerima bungamu. aku resah tapi menunggu, menunggu apa yang kau bicarakan dan kau jelaskan. waktu itu hati dan telingaku siap mendengar dengan seksama. aku juga tak sabar, ingin bertanya "mengapa". tapi sekejap saja kau hilang. lenyap lagi dari pandangan.
aku hampir putus asa.
Juni lagi ditahun berikutnya, kau berdiri dipanggung yang sama denganku. kau menyapa dan aku bahagia. sebenarnya aku lelah dengan permainan, tapi entah mengapa aku tak bisa menyerah. kau bilang banyak, aku tau banyak. setelah tahun kemarin aku kembali yakin. aku diam memperhatikan, dan kau terus bicara lanyah, menjelaskan. aku tak tau, apa kau mengadu, entahlah, apa aku tertipu, aku tak tau. sedang sesaat seperti hipnotis. dan aku bahagia.
hahaaa, kau bermain dengan suhunya. kau bertahan dengan permainanmu. emas pun rentan kalau dipanasdinginkan, kayu juga, baja juga. tapi mereka kalah denganku.
kalau kau hendak pergi, pergilah lagi. kau hendak berkali-kali, boleh saja. aku sudah ketagihan, sebab menunggu itu rupawan, kesakitan yang nyeri sudah menjadi indah ditubuhku, dan kupercaya rindu ini terbalas diam diam. kau memang romantis, dan rupanya kita masih kekasih. aku tak mau lagi tanya kau kemana. dalam kawatir kau pasti akan tiba. selama masih saja momen akan kita ciptakan dengan bermain waktu, selama ada kesamaan jeda dalam temponya. dan jika kita beruntung, dan Tuhan memberkati. disuatu titik kita pasti sama-sama akan menghampiri.