Minggu, 30 Juni 2013

Antara Togog dan Toga

Menggunakan toga nggak akan seberapa membuat saya bangga, itu bukan yang ingin saya capai. Jadi jangan kau anggap kesenanganmu, adalah kesenanganku juga. Berbeda dengan menenteng ransel dengan sendal jepit yang terbakar matahari bersama kulitku. Ketika berpeluh saya berjalan, terus melangkahkan kaki,  bertemu wajah-wajah yang baru kulihat, tempat-tempat baru yang kudiami, semua itu menjadi pencapaian yang membahagiakan. Berpijak kaki dibagian dari bumi ini, saya belajar menyimak, berbagi, respon, hati-hati, hormat, syukur, kuat, dan sebagainya, dan sebagainya.. detail.... ahh betapa membuat hidup menjadi berwarna. Menjadi khalifah, mendapatkan semua kebahagiaan yang berhak saya dapatkan. Ooh, tentu dikelas saya juga belajar, hanya sedikit saja yang menarik. Apalagi toga, mana mungkin itu menarik?.. kadang saya ingin bertanya, apa yang membuatmu begitu tergila-gila. Ahh, tetapi kutahan saja, biar itu menjadi urusanmu. Palingan kau mau bicara tentang derajat, mertabat dan harkat yang menjadi ukuran orang banyak. Dan ujungnya, kau akan tahu, nasi apa yang besok akan kau makan dan lauk apa yang akan menjadi penghiasnya. Saya? saya tidak mau sibuk membingungkan makan dengan mengorbankan senang. Saya tidak sudi dikunci dengan uang tapi kebebasan harus kutinggalkan. Kau sangat kurang tau tentang diriku, jangan kau pikir hitunganmu itu menjadi yang tepat untukku.
Ada lagi yang menjadi rumah untuk pulang. Ini saya tidak tahu darimana sejarahnya. Mungkin dari kehidupan dimasa lampau, hal ini sudah menjadi bagianku. Ah, akan lebih membingungkan kalau aku bicara rainkarnasi disini, kau akan menolak mati-matian. Kembali lagi saja pada topik yang sederhana biar kau sedikit mengerti. Saya hanya sesekali menari, bermain, menulis dan menggambar, tidak sering dan hanya kulakukan ketika saya mau saja. membuat apa yang disebut bahagia tadi, menjadi indah. Mereka tau yang menjadi kebutuhan perasaan saya, menurutku. Tapi menurutmu, kaulah yang sangat tahu apa yang menjadi kebutuhan perasaan saya. Seperti anak kecil saja kalau kita berebut aku. Hm, Kau sesekali harus merasakan keindahan itu, kalau kau mau. Hatiku menjadi kaya dan penuh dibuatnya. Aku hanya berandai saja. Kalau pendapatmu, aku tak mempedulikannya sepenuhnya. Jangan kau pikir aku melakukannya demi mengabdi kepada uang. Dia yang mengabdi padaku.
Nanti-nati dan besok aku tak akan bosan melakukan perjalanan yang membahagiakan dan memuaskan hidup dengan yang indah-indah, termasuk yaah,,, untuk belajar dikelas seperti yang kulakukan sebelumnya, itu hal kecil yang menjadi salah satu yang membantuku membuang waktu. Daripada saya tidak melakukan apa-apa.  bagaimanapun, itu sedikit menyenangkan. Sudaahlah, yang perlu kau catat adalah lagi-lagi saya bukan penggila toga dan saya bukan bangga pada nama yang semakin panjang dibuatnya , ah malah saya bisa saja lupa siapa nama saya yang sebenarnya, yang benar-benar kau berikan pada saya, itu adalah nama yang sederhana dan terlengkap yang saya punya. Terimakasih ya untuk itu. Dan satu lagi  juga, lupakan menilai saya dengan tingkatan kasta yang menjadi ukuranmu dan kebanyakan, karna akan menyakitkan ketika kau masih membeli uang lalu kau tetap memperhatikanku. Kau harus belajar menghormati juga, mungkin. Biar kita sama-sama bermoral.

Saya hanya heran, mengapa topi seperti itu bisa membuat kau begitu gila. Nah! Saya lebih suka togog temannya semar, daripada toga.

Tidak ada komentar: