Jumat, 18 Januari 2013

cobain deh,,, :p


Sore yang lumayan cerah itu saya sudah siap balik ke Jogja. Di stasiun kereta Kiaracondong, Bandung saya berencana naik kereta Malabar jam setengah empat sore. Sejam sebelum keberangkatan saya sudah ada distasiun ditemani sahabat saya. Setelah menghabiskan waktu nongkrong di warung sekitar stasiun akhirnya tiba saatnya saya pamit. Pas sampai di peron saya kebingungan karcis saya hilang. Padahal saya yakin banget kalau saya simpan karcis itu disaku celana belakang, karna saya sengaja simpan biar pas diperon nggak ribet. Beberapa saat saya nemu sebuah karcis kereta di tas saya. Akirnya saya diijinkan masuk stasiun. Beberapa langkah dari stasiun saya cek lagi ternyata karcis yang saya bawa itu bukan karcis kereta Malabar yang akan saya tumpangi, tapi karcis kereta pas saya berangkat ke Bandung sebelumnya. Padahal 15 manit lagi kereta datang. Sayapun buru-buru keluar stasiun, lari ke warung tempat saya nongkrong sebelumnya, tapi nggak nemu juga. Saya buru-buru ke tempat antrian stasiun untuk beli tiket lagi. Pas saya tanya sekuriti di stasiun, saya disuruh ke customer service, siapa tahu tiket saya bisa di print ulang. Huh. Rupanya tiket masih bisa diusahakan, disaat itulah detikan jam menjadi sangat berharga. Saya udah panik, karna hari itu saya benar-benar ingin pulang ke Jogja. Mengingat kereta hanya berhenti sebentar di Kiara condong, saya makin deg-degan waktu ituu. Dan bel kereta datang sudah bunyi. Saya tanya mbaknya, apa saya masih bisa ditunggu. Dan jawaban mbaknya bener-bener nggak bisa menenangkan hati, mbak nya bilang “diusahakan ya mbak”. Mampus, saya makin gelisah. Beberapa saat setelahnya, saya dikasih beberapa bendel kertas dan, “lari mbak” si mbaknya berteriak.. saya yang kaget kemudian ngerespon dengan merebut kertas itu dan lari nyamperin kereta yang udah mau jalan. Dengan iringan suara “kereta Malabar jurusan Malang akan segera berangkat, penumpang yang masih berada di luar.. bla.. bla.. bla...” saya berlari tunggang langgang dan BERHASIL juga tanganku mencengkeram gagang besi gerbong kereta yang sudah sedikit jalan itu. Dengan semangat penuh perjuangan dari bapak berseragam yang meraihkan tangan ke saya, akhirnya saya berhasil mendarat di pintu kereta pujaan. Ini seperti film action India. Setelah sedikit mengibas baju, saya melangkah penuh kemenangan masuk kereta sambil mencari-cari nomer kursi saya. Pandangan-pandangan penumpang tertuju pada saya, sorot mata mereka seperti nanar penuh kekaguman dan sebuah ungkapan “kamu sudah berhasil, nak”....
Kursi saya ketemu, dan saya segera menyandarkan bahu saya sebagai rasa bangga atas kejadian yang baru saja menimpa. Begitu nengok ke kanan, rupanya sebelah saya mas-mas bencong. Hyukk..
Pas cek karcis, saya baru tahu, ternyata bundelan kertas yang saya bawa itu adalah surat kehilangan tiket dan dua lembar rekap penumpang dari stasiun, dan pas pengecekan itu saya juga masih harus menunjukkan KTP. Tapi bapak yang ngecek tiket itu sudah tahu, bahwa sayalah tersangka yang ketinggalan kereta itu. “jadi mendadak terkenal kamu, mbak” kata bencong disebelahku. Saya hanya bisa senyum. “Terimakasih” batin saya pilu.
Di stasiun selanjutnya saya disodori selembar kertas lagi berupa telegram oleh mbak-mbak berseragam. Jadi pada pemeriksaan selanjutnya saya harus nunjukin dua lembar surat rekap dari stasiun tadi, surat kehilangan tiket, KTP, dan satu lembar telegram terakhir tersebut. Dan tanggap sekali bencong disebelahku nyeletuk “REMPONG BENJET, mbak.. !”...  dan saya pasrah dengar komentar itu.
Jadi pesen saya, cobalah hilangkan tiket kereta anda 15 menit sebelum keberangkatan. Dan rasakan sensasinya.. :p

Tidak ada komentar: