Sore yang lumayan cerah itu saya sudah siap balik ke Jogja.
Di stasiun kereta Kiaracondong, Bandung saya berencana naik kereta Malabar jam
setengah empat sore. Sejam sebelum keberangkatan saya sudah ada distasiun
ditemani sahabat saya. Setelah menghabiskan waktu nongkrong di warung sekitar
stasiun akhirnya tiba saatnya saya pamit. Pas sampai di peron saya kebingungan
karcis saya hilang. Padahal saya yakin banget kalau saya simpan karcis itu
disaku celana belakang, karna saya sengaja simpan biar pas diperon nggak ribet.
Beberapa saat saya nemu sebuah karcis kereta di tas saya. Akirnya saya
diijinkan masuk stasiun. Beberapa langkah dari stasiun saya cek lagi ternyata
karcis yang saya bawa itu bukan karcis kereta Malabar yang akan saya tumpangi, tapi
karcis kereta pas saya berangkat ke Bandung sebelumnya. Padahal 15 manit lagi
kereta datang. Sayapun buru-buru keluar stasiun, lari ke warung tempat saya
nongkrong sebelumnya, tapi nggak nemu juga. Saya buru-buru ke tempat antrian
stasiun untuk beli tiket lagi. Pas saya tanya sekuriti di stasiun, saya disuruh
ke customer service, siapa tahu tiket saya bisa di print ulang. Huh. Rupanya tiket
masih bisa diusahakan, disaat itulah detikan jam menjadi sangat berharga. Saya udah
panik, karna hari itu saya benar-benar ingin pulang ke Jogja. Mengingat kereta
hanya berhenti sebentar di Kiara condong, saya makin deg-degan waktu ituu. Dan bel
kereta datang sudah bunyi. Saya tanya mbaknya, apa saya masih bisa ditunggu. Dan
jawaban mbaknya bener-bener nggak bisa menenangkan hati, mbak nya bilang “diusahakan ya mbak”. Mampus, saya makin
gelisah. Beberapa saat setelahnya, saya dikasih beberapa bendel kertas dan, “lari mbak” si mbaknya berteriak.. saya
yang kaget kemudian ngerespon dengan merebut kertas itu dan lari nyamperin
kereta yang udah mau jalan. Dengan iringan suara “kereta Malabar jurusan Malang akan segera berangkat, penumpang yang
masih berada di luar.. bla.. bla.. bla...” saya berlari tunggang langgang
dan BERHASIL juga tanganku mencengkeram gagang besi gerbong kereta yang sudah
sedikit jalan itu. Dengan semangat penuh perjuangan dari bapak berseragam yang
meraihkan tangan ke saya, akhirnya saya berhasil mendarat di pintu kereta
pujaan. Ini seperti film action India. Setelah sedikit mengibas baju, saya
melangkah penuh kemenangan masuk kereta sambil mencari-cari nomer kursi saya. Pandangan-pandangan
penumpang tertuju pada saya, sorot mata mereka seperti nanar penuh kekaguman
dan sebuah ungkapan “kamu sudah berhasil,
nak”....
Kursi saya ketemu, dan saya segera menyandarkan bahu saya
sebagai rasa bangga atas kejadian yang baru saja menimpa. Begitu nengok ke
kanan, rupanya sebelah saya mas-mas bencong. Hyukk..
Pas cek karcis, saya baru tahu, ternyata bundelan kertas
yang saya bawa itu adalah surat kehilangan tiket dan dua lembar rekap penumpang
dari stasiun, dan pas pengecekan itu saya juga masih harus menunjukkan KTP. Tapi
bapak yang ngecek tiket itu sudah tahu, bahwa sayalah tersangka yang
ketinggalan kereta itu. “jadi mendadak
terkenal kamu, mbak” kata bencong disebelahku. Saya hanya bisa senyum. “Terimakasih” batin saya pilu.
Di stasiun selanjutnya saya disodori selembar kertas lagi berupa
telegram oleh mbak-mbak berseragam. Jadi pada pemeriksaan selanjutnya saya
harus nunjukin dua lembar surat rekap dari stasiun tadi, surat kehilangan
tiket, KTP, dan satu lembar telegram terakhir tersebut. Dan tanggap sekali
bencong disebelahku nyeletuk “REMPONG
BENJET, mbak.. !”... dan saya pasrah
dengar komentar itu.
Jadi pesen saya, cobalah hilangkan tiket kereta anda 15
menit sebelum keberangkatan. Dan rasakan sensasinya.. :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar